Powered By Blogger

Kamis, 09 September 2010

Puasa untuk sasama


PESAN MORAL-SOSIAL PUASA
Oleh : Muh.Syukron


Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa (Q.S. Al-Baqarah:183).
Allah berfirman:
Dan andai kalian memilih puasa tentulah itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui (Q.S. Al Baqarah: 184).
Apakah ilmu pengetahuan kontemporer sudah bisa mengungkap rahasia dari firman Allah “Dan jika kalian berpuasa maka itu lebih baik bagi kalian”???
Sesungguhnya ilmu pengetahuan kedokteran kontemporer belum mempu mengungkap hakikat puasa, selain hanya menyatakan bahwa puasa adalah keinginan yang boleh bagi manusia untuk melakukannya atau tidak. Itu saja.
Secara lahir telah banyak berbagai manfaat puasa bagi kesehatan tubuh. Setelah melalui berbagai penelitian ilmiah dan terperinci terhadap organ tubuh manusia dan aktivitas fisiologisnya menemukan bahwa puasa secara jelas adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh tubuh manusia sehingga ia bisa terus melakukan aktivitasnya secara baik. Dan puasa benar-benar sangat penting dan dibutuhkan bagi kesehatan manusia sebagaimana manusia membutuhkan makan, bernafas, bergerak, dan tidur. Maka manusia sangat membutuhkan hal-hal ini. Jika manusia tidak bisa tidur, makan selama rentang waktu yang lama maka ia akan sakit. Maka, tubuh manusia pun akan mengalami hal yang jelek jika ia tidak berpuasa.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaa’i dari shahabat Abu Umamah:
“Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku satu amalan yang Allah akan memberikan manfaat-Nya kepadaku dengan sebab amalan itu”. Maka Rasulullah bersabda, “Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa”.
Dan sebab pentingnya puasa bagi tubuh adalah karena puasa bisa membantu badan dalam membuang sel-sel yang sudah rusak, sekaligus sel-sel atau hormon atau pun zat-zat yang melebihi jumlah yang dibutuhkan tubuh. Dan puasa, sebagaimana dituntunkan oleh Islam adalah rata-rata 14 jam, kemudian baru makan untuk durasi waktu beberapa jam.
Daripada itu secara batin/ ukhrawi puasa juga memberikan pelajaran dan manfaat banyak. Diantaranya sebagaimana pengalaman dari Tom Branch, dari Columbia Press mengatakan:
Aku menganggap puasa adalah pengalaman ruhani yang sangat luar biasa, lebih besar daripada pengalaman biologis/badan semata. Maka karena keinginan itu, aku mulai berpuasa dengan tujuan membersihkan diriku dari berat badan yang berlebih. Akan tetapi, ternyata aku mendapati bahwa puasa tersebut bermanfaat sekali bagi kejernihan fikiran. Puasa sangat membantu pandangan mata sehingga pandangan menjadi jelas sekali. Demikian juga sangat membantu dalam menganalisis ide-ide baru atau pun persepsi. Dan aktivitas puasaku belum berlalu beberapa hari, tetapi aku mendapati pengaruh kejiwaan yang demikian besar.
Aku telah berpuasa beberapa kali hinga sekarang. Dan aku biasanya memilih waktu antara 1 sampai 6 hari. Dan pada awalnya tujuanku adalah untuk menghilangkan efek negatif dari makanan yang aku konsumsi, juga untuk membersihkan jiwaku dari hal-hal yang aku alami sepanjang hidupku, khususnya setelah memperhatikan dunia dalam beberapa bulan terakhir, dan aku melihat banyak kedhaliman dan kebrutalan yang manusia hidup di dalamnya. Sungguh aku merasa bertangung jawab terhadap keadaan mereka, maka aku pun berpuasa untuk menghilangkan fikiran-fikiran itu.”
“Saya setiap kali berpuasa perasaan tertarik pada makanan benar-benar hilang, dan aku merasakan badanku sangat rileks dan nyaman. Dan aku merasakan diriku berpaling dari fantasi-fantasi, emosi-emosi negatif seperti dengki, cemburu, suka ngerumpi, juga hilang perasaan takut, perasaan tidak enak, dan bosan. Semua perasaan-perasaan ini hilang dengan sendirinya ketika aku berpuasa. Dan sungguh aku merasa dengan pengalaman yang begitu mengesankan bersama dengan banyak manusia ketika berpuasa. Dan mungkin semua yang aku katakan ini adalah sebab yang menjadikan muslimin -sebagaimana aku melihat mereka di Turki, Suriah, dan Quds- dengan puasa selama 1 bulan penuh menjadikan jiwa-jiwa mereka begitu mengesankan yang tidak pernah aku temukan di belahan duni manapun”.
Untuk itu barangsiapa yang berpuasa secara benar-benar puasa akan memberikan manfaat ganda baik secara lahir maupun batin-baik secara individual maupun sosial. Demikianlah pesan moral dan sosial yang dipresentasikan dalam kegiatan puasa, disamping memberikan manfaat bagi diri juga berimplikasi pada orang lain dan masyarakat.
Pesan moral yang dapat ditarik dari praktek puasa sebagaimana gambaran di atas dan idealitas puasa kita dapat menjaga semua panca indera kita dari hal-hal yang membatalkan nilai puasa kita, seperti menjaga mulut dari ucapan-ucapan kotor, bohong, fitnah, menipu terlebih secara lahir menjaga kemasukan dari yang haram bahkan disiang hari menjaga dari kemasukan makan minum yang halal; menjaga telinga dari pembicaraan yang tidak boleh di dengar, pembicaraan yang maksiat dll; menjaga hati dari iri, dengki, benci dan dendam.
Pesan sosial yang dapat ditarik dari praktek puasa diantaranya seperti semakin peduli terhadap sesama yang membutuhkan karena pengalaman merasakan kehausan dan kelaparan terlebih bagi mereka yang setiap hari berhampuran makan yang berlebih.
Dari berbagai ajaran fadhilah puasa memberikan motivasi untuk turut serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama, seperti saling memberikan sedikit minum/makan untuk buka bagi mereka yang berpuasa mempunyai nilai sama dengan mereka yang puasa, melakukan aktivitias yang mempunyai manfaat orang banyak mempunyai nilai lebih dihadapan Allah terlebih dalam puasa Ramadahan nilainya berlipat ganda dari hari biasa.
Permasalahannya, banyak diantara kita yang kembali lupa akan pesan moral  dan sosial ini dikala Ramadhan telah lewat, padahal bukti dari diterimanya ibadah yang kita lakukan termasuk puasa membekas dalam diri dan kehidupan kita. Dari yang tadinya amburadul menjadi santun, dari yang tadinya rakus menjadi qonaah dan ikhlas, dari yang tadinya kurang peduli bahkan tidak peduli menjadi peduli terhadap sesama terlebih pada mereka yang membutuhkan.
Semua ibadah termasuk puasa harus dilandasi tiga ranah (Iman, Syariat dan Ikhsan). Pertama diniati/dilandasi iman yang hakiki-puasa hanya ditujukan kepada Allah tidak ada maksud lain; Kedua dilakukan dengan aturan yang sesuai syariat; Ketiga dilakukan dengan penuh keikhlasan dan pengharapan ridho Allah. Maka nilai sebuah ibadah termasuk puasa merupakan rahasia, hanya Allah yang tahu tingkat keimanan, kesyariatan dan keikhlasan orang yang menjalankan, namun secara implikasi dapat dinilai bersama karena secara lahir akan tampak pada kehidupan seseorang walau belum tentu orang yang secara sosial baik di dalam hatinya baik.
Alangkah indahnya jika setiap orang dapat berlomba-lomba setiap hari untuk selalu peduli terhadap sesama sebagaimana pada bulan ramadhan. Maka dapat dilihat dimanapun tidak akan ada kemiskinan, kelaparan, kesusahan dan kegelisahan serta kekhawatiran bahkan kejahatan. Sebab mereka yang berlimpah harta akan menjadi penolong bagi yang kekurangan. Dengan semakin meningkatnya rasa kepedulian akan dapat membantu mengurangi bahkan menghilangkan semua itu.
Andaikata pesan moral dan sosial puasa ini melekat pada semua orang dunia ini akan tentram, sebab mereka yang kekurangan akan ikhlas menerima sebagai ujian dan senantiasa berusaha meningkatkan diri agar tidak semakin hina dengan praktek-praktek kemaksiatan namun akan terus meningkatkan derajat hidupnya dengan berbagai usaha yang lebih baik dan mereka yang berlebih akan sadar bahwa apa yang didapat merupakan karunia Allah yang di dalamnya ada hak untuk mereka yang membutuhkan dan kekurangan juga menghindarkan diri dari sikap rakus dan tamak terhadap harta, kekuasan dan popularitas.
Berkaca dari berbagai tindakan kejahatan yang semakin merajalelal di dunia ini, dari perspektif di atas dapat dikatakan karena semakin tingginya rasa individualiitas keinsanan orang. Keinsanan sebagian orang sebagai makhluk sosial telah tereduksi bahkan bisa dikatakan hampir hilang terkalahkan oleh sisi kebinatangan yang ada di dalam diri manusia. Sebab secara fisik lahir manusia dapat dikatakan bagian dari kelompok makhluk hidup mamalia. Sebagaimana hadits menyatakan : “Al-Insanu hayawanu natik. Yang mempunyai makna bahwa manusia itu dapat dikategorikan binatang namun binatang yang mempunyai akal fikiran.
Hadits ini harus difahami bahwa posisi manusia dapat dikatakan sebagai binatang bahkan dapat menjadi serendah-rendahnya makhluk hidup manakala ia tidak mau menggunakan akal fikiran dan hatinnya, sedang jika akal fikiran dan hatinnya digunakan sebagaimana fitrahnya derajatnya akan semakin tinggi bahkan melebihi malaikat.
Firman Allah dalam Q.S.At-Tien ayat 4-5 yang mempunyai arti:
Sugguh telah Aku ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk; dan kemudian akan dikembalikan dalam tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh”.
Dari ayat di atas dapat diambil pelajaran bahwa pada asalnya manusia itu baik, tidak ada manusia yang jahat baik secara iman, syariat dan akhlak. Proses perjalanan waktu di dunialah ujian manusia berlangsung. Rangkaian petunjuk dan petuah selalu mengiri dalam kehidupan kita untuk selalu ingat akan jati diri kita sebagai hamba Allah (hablu minallah) dan sebagai khalifatullah (hablu minannas). Untuk itu segala bentuk ibadah termasuk puasa pasti memberikan manfaat dan pesan-pesan yang berimplikasi untuk kebaikan diri, orang lain dan masyarakat.
Berbagai permasalahan kejahatan yang ada jika kita kaji dari sisi amalan ibadah yang kita lakukan karena dalam melakukan ibadah kita belum sepenuhnya yakin dan dengan sungguh-sungguh penuh keikhlasan karena Allah, dalam melakukan ibadah kebanyakan masih sekedar menggugurkan kewajiban tidak karena niatan motivasi dari dalam untuk lilahitaala; atau karena dalam melakukannya masih salah secara syariat/ aturan yang ada. Sehubungan itu marilah kita bermuhasabah terhadap segala tindakan ibadah yang telah kita lakukan apakah sudah baik dan benar niat, sudah baik dan benar syariatnya sudah sudah baik dan benar tindak tanduk kita dalam melakukan.
Puasa terlebih dalam bulan Ramadhan mempunyai nilai lebih; Ramadhan sebagai salah satu keagungan bulan yang diawali dengan limpahan rahmat (kasih saying) Allah terhadap semua makhluknya, dilanjutkan dengan limpahan maghfirah (ampunan) bagi mereka yang senantias memohon tobat dengan benar-benar tobat dan diakhiri dengan dibebaskannya dari api neraka. Keistimewaan ini jika membekas pada setiap orang akan menjadikan orang itu derajatnya naik semakin tinggi dan semakin tinggi. Bagi para pejabat dan DPR akan sadar amanah yang dipegangnya untuk selalu memberikan kebijakan yang bermanfaat bagi semua orang tidak bagi diri dan kelompoknya serta tidak akan berlomba-lomba untuk mengambil keuntungan saat berkuasa seperti melakukakn korupsi, kolusi dan nepotisme namun mereka akan berlomba-lomba menyalurkan apa yang di dapat untuk kepentingan rakyat.
Alangkah indahnya dunia ini manakala setiap orang sadar akan perannya masing-masing untuk senantiasa meingkatkan ketaqwaan kepadaa Allah dengan menjadikan diri sebagai Abdullah sekaligus Khalifatullah dalam menegakan amar ma’ruf nahi munkar. Namun demikianlah Allah menjadikan dunia ini beraneka ragam warna kehidupan. Ada bahagia-ada susah, ada canda-ada tawa, ada suka-ada duka, ada gembira-ada gundah, ada senang-ada kecewa dan lain sebagainya. Bagi orang bertaqwa semua itu ujian dan cobaan yang tidak ada bedanya, yang membedakan bagaimana sikap kita menghayati dan mengbambil hikmah di balik semua itu.
Bagi orang yang bertaqwa dalam menghadapi segala kesenangan dan kebahagian hidup di dunia baik lahir dan batin akan senantiasa menginfakan apa yang dipunyai untuk kepentingan umat sedang bila menghadapi ujian kesusahan dan kedukaan akan semakin sadar akan jati dirinya sebagai manusia yang mempunyai kelemahan sehingga segala upaya diusahakan untuk semakin dekat kepada Allah Swt di setiap waktu dan di segala tempat. Jadi dapat dikatakan orang yang bertaqwa adalah mereka yang sadar akan jati diri keinsananannya yang mempunyai akal fikiran dan hati nurani yang cederung pada fitrah kebaikan dan kebenaran dari Allah Swt dan kebalikannya mereka yang masih terjebak pada nafsu kebinatangan seperti kerakusan dalam menggapai kekuasaan, harta, dan popularaitas termasuk orang yang fasik. Inilah esensi segala muara ibadah termasuk puasa sebagaimana firman Allah di atas bahwa dengan menjalankan sepenuh perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya
Akhirnya marilah kita berlomba-lomba dalam menggapai ridho Allah dengan sebenar-benarnya melalui pembersihan akal, hati dan perbuatan dari ilah-ilah atau percaya pada kekuatan-kekuatan lain selain Allah dan menjalankan ibadah sesuai syariat dan penuh kikhlasan. Terlebih di bulan yang penuh rahmat, maghfirah dan pembebasan neraka yang setiap detik, menit dan jamnya dalam melakukan ibadah akan dinilai ganda oleh Allah sehingga kita semakin meningkat ketaqwaan kita dalam menjalankan kehidupan ini. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar